Kamis, 08 Agustus 2013
PELESTARIAN NILAI - NILAI KEPAHLAWANAN
Pelestarian Nilai –
Nilai Kepahlawanan
5 Agustus, 2013 at
12:00 am

Drs H Tamtomo
Utamapati, M Pd
Pengamat Pendidikan
di Surabaya
Pahlawan tidak pernah mengharapkan balasan dari orang
sekitarnya, pahlawan bekerja dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih, bahkan
pahlawan tidak pernah memikirkan bagaimana nasib anak istrinya, mereka tetap
berjuang tiada henti sampai nafas kehidupannya berakhir atau maut menjemputnya.
Pahlawan tidak minta disanjung dan tidak mau dipublikasikan ke media masa
tentang sepak terjangnya. Dia berjuang untuk kepentingan umum diatas
kepentingan pribadinya. Dengan kata lain pahlawan tidak akan mengumpulkan harta
untuk anak keturunannya kelak, mereka berjuang tanpa kenal lelah, tanpa kenal
waktu siang dan malam. Hanya ada kalimat berjuang… berkorban sampai titik darah
penghabisan.
Demikianlah suri tauladan yang wajib kita ikuti pada dunia
sekarang yang cenderung semakin lama semakin melenceng dari nilai – nilai
kepahlawanan. Pemimpin yang seharusnya tidak mengharapkan balasan dan bekerja
tanpa pamrih dalam menolong masyarakat rendah tapi malah menyengsarakan
masyarakat,mereka para pemimpin masih ada yang selalu menghitung dari nilai
uang yang didapatkannya dalam bekerja, sehingga tidaklah heran terjadi
penyunatan bantuan masyarakat miskin yang seharusnya bukan menjadi hak para
pemimpin. Pemimpin yang seharusnya mengutamakan kepentingan umum diatas
kepentingan pribadi, malah mendahulukan kepentingan pribadi.
Dalam melaksanakan tugas lebih mengutamakan bentuk – bentuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan malah minta dilayani oleh
masyarakat. Lebih jauh seharusnya nilai – nilai kepemimpinan berpihak pada
masyarakat rendah yang menitik beratkan pada kebutuhan pokok yang berupa
sandang, pangan dan papan yang layak.
Tiga arti kemerdekaan bagi rakyat Indonesia yaitu: 1)
merdeka artinya rakyat harus terbebas dari belenggu kelaliman, 2) rakyat harus
dilepaskan dari beban berat dan diberikan keringanan untuk hidup di alam
merdeka, 3) memberikan makan kepada rakyat yang kelaparan dan membawa mereka
hidup dalam kesejahteraan. Apabila ketiganya ini sudah berjalan di negeri kita
ini, maka para pahlawan yang telah gugur mendahului kita akan tersenyum bangga
atas perjuangannya yang tidak mudah didapatkan begitu saja. Untuk itu syarat
mutlak sebuah kepemimpinan yang tidak bisa ditawar – tawar, pemimpin itu harus
jujur dan berorientasi pada masyarakat bawah.
Pertanyaan kita semua untuk para pemimpin, sudahkah rakyat
kita terbebas dari belenggu kelaliman?, Sudah bebaskah rakyat dari penyerobotan
tanah yang dimilikinya?, Sudah bebaskah rakyat kita dari hilangnya harta benda
atau nyawa?, Adilkah perlakuan hukum bagi masyarakat rendah dan kelas atas?,
Sudah hilangkah keinginan para pemimpin untuk terus menerus menguasai kekuasaan
secara turun temurun?, sudah hilangkah keinginan para pemimpin untuk
mengangkangi proyek – proyek besar tanpa ada KKN?, sudahkah pelayanan
kesehatan, pendidikan, surat – surat miskin yang menjadi haknya mudah
didapatkan ?. Jawaban inilah yang patut segera dijawab oleh para penguasa
negeri ini untuk dapat memberikan nilai tambah bagi para pahlawan yang telah
gugur mendahului kita, sebagai realita kemerdekaan bagi seluruh warga negara
Indonesia. Rakyat tidak butuh janji – janji yang meninabobokan kebutuhan yang
mendesak, tetapi rakyat lebih mempercayai kenyataan. Makin banyak pemimpin yang
mengobral janji – janji kosongnya, makin banyak pula rakyat yang tidak percaya.
Semoga para pemimipin kita semuanya satu kata dan satu perbuatan.
Jumat, 26 Juli 2013
MENANAMKAN PENDIDIKAN SILATURAHMI SEJAK DINI
MENANAMKAN PENDIDIKAN SILATURAHMI
SEJAK DINI
( Drs.H.tamtomo Utamapati,M.Pd )
Pengamat
Pendidikan di Surabaya.

Sebentar lagi kita umat Islam
akan merayakan Hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari bersejarah bagi umat
islam sedunia.Pada saat inilah akan terjadi komunikasi dua arah
dan bahkan banyak arah ( terutama di Indonesia ). Komunikasi ini akan
melibatkan hubungan darah ataupun yang tak ada hubungan tali persaudaraan
sekalipun. Dari sinilah kita bisa melihat betapa pentingnya manfaat memupuk tali
silaturahmi / bertemu muka antar manusia.
Rasulullah
Alaihi Wasalam berwasiat kepada Abu Dzar Al Ghifari , yang intinya ada 7 (
tujuh ) macam, yaitu: ( 1 ) supaya engkau mencintai orang – orang miskin dan
dekat dengan mereka, ( 2 ) beliau memerintahkan aku agar aku melihat orang yang
berada dibawahku dan tidak melihat orang yang berada diatasku, ( 3 ) beliau
memerintahkan agar aku menyambung tali silaturahmiku meskipun mereka berlaku
kasar kepadaku, ( 4 ) aku dianjurkan memperbanyak ucapan La Haula Wala Quwataila billah / tidak ada daya
dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, ( 5 ) aku diperintahkan untuk
mengatakan kebenaran meskipun pahit, ( 6 ) beliau berwasiat agar aku tidak
takut celaan orang yang mencela dalam berdakwa kepada Allah, dan ( 7 ) beliau
melarang aku agar tidak minta – minta sesuatupun kepada manusia.
Apabila
7 ( tujuh ) wasiat ini diberikan orang tua kepada anaknya sejak dini, maka yang dilakukan orang tua pada anaknya
mempunyai makna yang dalam dan sangat bermanfaat bagi kehidupan anaknya kelak
dikemudian hari. Insyaallah anak tersebut tidak hanya akan berguna bagi
kehidupan di dunia tetapi juga kehidupan di akhirat kelak.
Orang
tua yang mengajak anaknya untuk mempererat tali silaturahmi baik pada hari raya
idul fitri maupun hari – hari lain akan membawa kehidupan anaknya lebih islami
dan mengerti bagaimana susahnya menjadi orang miskin. Mereka tidak hanya tahu
dalam arti teori, betapa sulitnya menjadi orang miskin, tetapi juga dalam arti
yang sesungguhnya, bagaimanakah jadi
orang miskin?. Apabila hal ini betul –
betul diketahui, diamati dalam keseharian, maka orang tua tersebut akan
membentuk jiwa anaknya menjadi anak yang welas asih pada orang lain. Lebih jauh
jika anak tersebut menjadi pemimpin, dia
akan menjadi pemimpin yang disegani, dihormati karena tahu penderitaan
masyarakat miskin. Dia akan jadi pemimpin yang bijaksana, adil, bermartabat,
jujur dan bebas dari KKN.
Makna
yang lain jika anak tersebut melihat orang – orang yang nasibnya dibawah kita
akan membentuk jiwa anak yang penuh kepasrahan, keikhlasan dan rasa syukur yang
berupa kenikmatan hidup dan sehat dari Sang Khalik, karena oleh Allah
memberikan sesuatu yang lebih daripada mahluk lainnya .
Dengan
menyambung tali silaturahmi kepada sesama manusia walaupun orang lain berbuat
kasar kepada kita, akan memupuk jiwa yang besar yaitu jiwa yang mudah memaafkan
orang lain. Dari sinilah kita melihat bahwa dalam hidup didunia diperlukan keberanian untuk berdiri
dan berbicara dan keberanianpun diperlukan untuk duduk dan mendengarkan.
Artinya sebagai manusia kita harus berani mengatakan benar jika itu benar dan
salah jika itu salah.
Islam
juga mengajarkan kita untuk bekerja keras dan tidak mengajarkan untuk minta –
minta. Hal ini bermakna bahwa hidup adalah penuh perjuangan dan perjuangan itu
harus dimaksimalkan agar kebahagiaan dunia bisa terpenuhi.
Pada
saat bersilaturahmi ini akan membentuk jiwa anak yang sabar, lemah lembut,
menyayangi mereka yang menderita dan berupaya untuk menolongnya, memperhatikan
keadaan mereka meskipun mereka jauh dan berbuat jahat kepada kita.
Silaturahmi
yang hakiki sebenarnya bukanlah menyambung hubungan baik dengan orang yang
telah berbuat baik kepada kita, namun silaturahmi yang hakiki adalah menyambung hubungan
kekerabatan yang telah retak dan putus dan berbuat baik kepada kerabat yang
berbuat jahat kepada kita. Rasullullah Shallalahu ‘alaihi wasalam bersabda: “ Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah
orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambung kekerabatannya apabila diputus “.
Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung
silaturahmi. Dengan bersilaturahmi Allah akan melapangkan rejeki dan
memanjangkan umur kita. Dan bagi orang yang memutuskan tali silaturahmi Allah akan mempersempit rejekinya
dan tidak diberikan keberkahan pada hartanya.
Bersilaturahmi
dapat dilakukan dengan cara mengunjungi karib kerabat, menanyakan kabarnya, memberikan
hadiah, bersedekah kepada mereka yang miskin, menghormati mereka yang lebih
tua, menyayangi yang lebih muda dan lemah, serta menanyakan terus keberadaan
mereka baik secara langsung atau tidak langsung melalui surat, telepon, SMS dan
sebagainya. Yang jelas dengan silaturahmi akan membawa kebaikan bagi kita
semua, baik yang muda maupun yang tua. Adapun silaturahmi yang paling utama
adalah kepada orang tua, karena orang tua adalah kerabat yang paling dekat,
yang memiliki jasa yang sangat besar, mereka memberikan kasih sayangnya
sepanjang hidupnya. Sebagai orang tua maka keteladanan sangat diperlukan untuk
membentuk anak yang mandiri, bertanggung jawab dan berahlak mulia. Lebih jauh
orang tua harus mendidik dengan hati yang penjabarannya adalah jangan takut
melakukan sesuatu jika melakukan sesuatu yang baik.
Sebagai
orang tua yang baik, maka orang tua harus mempunyai niat baja, tekun memberi
keteladanan, memberikan sentuhan hati menanamkan semangat dan berilmu tinggi.
Kamis, 25 Juli 2013
baca: PENARIKAN PAJAK HARUS DIIMBANGI DNG FASILITAS JALA...
baca: PENARIKAN PAJAK HARUS DIIMBANGI DNG FASILITAS JALA...: PENARIKAN PAJAK HARUS DIIMBANGI DNG FASILITAS JALAN YANG BAIK OLEH: TAMTOMO UTAMAPATI Perlindungan konsumen di Indones...
baca: Pendidikan Berkualitas Murah Meriah, mungkinkah ?...
baca: Pendidikan Berkualitas Murah Meriah, mungkinkah ?
...: Pendidikan Berkualitas Murah Meriah, mungkinkah ? Drs. H. Tamtomo Utamapati, MP.d Pengamat Pendidikan Desentralisasi pendidikan menuntu...
...: Pendidikan Berkualitas Murah Meriah, mungkinkah ? Drs. H. Tamtomo Utamapati, MP.d Pengamat Pendidikan Desentralisasi pendidikan menuntu...
baca: PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK BANGSA MENUJU GENERASI Y...
baca: PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK BANGSA MENUJU GENERASI Y...: PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK BANGSA MENUJU GENERASI YANG BERKUALITAS. Oleh: Tamtomo Utamapati, Surabaya ) I. Latar Belakang Masalah: a. Per...
baca: KEMANDIRIAN KEPALA SEKOLAH SWASTA, SEBUAH HARGA MA...
baca: KEMANDIRIAN KEPALA SEKOLAH SWASTA, SEBUAH HARGA MA...: KEMANDIRIAN KEPALA SEKOLAH SWASTA, SEBUAH HARGA MATI. Drs. Tamtomo Utamapati, M.Pd Pengamat Pendidikan P endidikan di Indonesia tida...
PENARIKAN PAJAK HARUS DIIMBANGI DNG FASILITAS JALAN YANG BAIK
OLEH: TAMTOMO UTAMAPATI
Perlindungan konsumen di Indonesia masih jauh dari sempurna atau boleh dikatakan tidak ada imbal balik sama sekali, antara besarnya pajak yang terus meningkat angkanya, terutama yang kita setorkan ke negara, bahkan variasi pajak makin bertambah jenisnya. Dengan kata lain pendapatan pajak yang diterima negara makin besar, sementara fasilitas yang harus dipenuhi negara untuk kemaslahatan bersama bagi warga negara hampir tidak terpenuhi secara maksimal.
Salah satu contoh adalah lubang dijalan yang jarang tercover untuk diperbaiki dengan cepat dan baik.Andaikan ada itupun sangat lama setelah pembayar pajak ada yang meninggal atau terluka parah.Kasihan nasib rakyat kecil seperti kita ini. Pajak wajib dibayar kalau terlambat di DENDA.Sementara pembayar pajak sendiri jadi korban kecelakaan lalu lintas terkadang ada yang luka bahkan ada yang meninggal dunia.
Bagaimana Para Petinggi di bumi kita ini, kalau yang jadi korban diri anda sendiri karena menggunakan kendaraan bermotor roda dua yang mati sia - sia karena jalan yang berlubang yang tidak segera ditangani dengan cepat. Impian saya bagaimana kalau para petinggi kita naik sepeda motor roda dua supaya tahu kesulitan rakyat kecil.Ingat setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak dikemudian hari.
OLEH: TAMTOMO UTAMAPATI
Perlindungan konsumen di Indonesia masih jauh dari sempurna atau boleh dikatakan tidak ada imbal balik sama sekali, antara besarnya pajak yang terus meningkat angkanya, terutama yang kita setorkan ke negara, bahkan variasi pajak makin bertambah jenisnya. Dengan kata lain pendapatan pajak yang diterima negara makin besar, sementara fasilitas yang harus dipenuhi negara untuk kemaslahatan bersama bagi warga negara hampir tidak terpenuhi secara maksimal.
Salah satu contoh adalah lubang dijalan yang jarang tercover untuk diperbaiki dengan cepat dan baik.Andaikan ada itupun sangat lama setelah pembayar pajak ada yang meninggal atau terluka parah.Kasihan nasib rakyat kecil seperti kita ini. Pajak wajib dibayar kalau terlambat di DENDA.Sementara pembayar pajak sendiri jadi korban kecelakaan lalu lintas terkadang ada yang luka bahkan ada yang meninggal dunia.
Bagaimana Para Petinggi di bumi kita ini, kalau yang jadi korban diri anda sendiri karena menggunakan kendaraan bermotor roda dua yang mati sia - sia karena jalan yang berlubang yang tidak segera ditangani dengan cepat. Impian saya bagaimana kalau para petinggi kita naik sepeda motor roda dua supaya tahu kesulitan rakyat kecil.Ingat setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak dikemudian hari.
Selasa, 23 Juli 2013
Antara Bosnas dan Bopda
Senin, 20 Desember 2010 09:35 WIB
M
Romandhon MK Peneliti The Culture and Society Community Drs H Tamtomo
Utamapati MPd , bambangtomo@gmail.com Hal
yang lagi hangat dibicarakan dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah
bantuan dari pemerintah, baik Bosnas dan Bopda yang fungsinya untuk
menopang dunia pendidikan. Bantuan ini sangat dibutuhkan untuk
keberlangsungan pendidikan, namun ada hal yang jauh lebih penting
dicermati dalam hal pertanggung jawaban melalui laporan
pertanggungjawaban. Ada keberagaman penafsiran dalam menyikapi bantuan
ini, terkadang antarkepala sekolah masih ada perbedaan dalam hal
pembuatan laporan pertanggungjawaban ini, bahkan personal departemen
pendidikan pun masih ada beberapa perbedaan persepsi dalam menyikapi dua
macam bantuan ini. Perbedaan persepsi terjadi karena salah satu di
antaranya disebabkan oleh kurangnya komunikasi, informasi, serta
sosialisasi dari dinas terkait terhadap aparat di bawahnya sebagai
penerima bantuan. Bahkan ada perbedaan persepsi pihak dinas pendidikan,
kejaksaan dan kepolisian dalam kaitannya dengan pelaksanaan di lapangan.
Kalau dicermati aturan tertulis sudah jelas terhadap apa yang
diperbolehkan dan apa yang dilarang dalam penggunaan Bosnas dan Bopda.
Namun, sifatnya masih umum dan belum spesifikasi dalam hal penggunaan
dan pelaporannya. Dengan demikian, maka diperlukan adanya sosialisasi
dalam penggunaan dan pelaporan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban.
Tidak ada jeleknya kalau dinas pendidikan memfasilitasi forum tanya
jawab dalam kaitannya terbitnya kendala di lapangan untuk dipublikasikan
melalui media massa atau media elektronik lainnya, agar penyimpangan
yang disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas dari para kepala sekolah
dalam bidang hukum dapat diminimalisasi. Di samping itu sebaiknya pihak
dinas pendidikan harus memberikan saran kepada para kepala sekolah
dengan melibatkan banyak pihak, di antaranya pelibatan unsur kejaksaan,
kepolisian dan juga pihak inspektorat wilayah, demi mengurangi kesalahan
yang dilakukan oleh kepala sekolah. Dengan demikian maka masyarakat pun
mengetahui, apa dan bagaimana Bosnas dan Bopda itu sebenarnya.
Bagaimana pun juga bantuan itu menguntungkan pihak sekolah, tetapi yang
tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pelaporan pertanggungjawabannya
yang benar, agar tidak terjadi kesalahan baik secara hukum maupun norma
yang berlaku bagi masyarakat. Mengingat begitu pesatnya arus informasi
dan arus perubahan informasi dewasa ini, kepala sekolah dituntut harus
tanggap terhadap permasalahan secara tepat, cepat, akurat dan kredibel.
Mengingat pesatnya arus informasi dan arus perubahan informasi dewasa
ini, kepala sekolah dituntut harus tanggap terhadap permasalahan secara
tepat, cepat, akurat dan kredibel.
Pendidikan Berkualitas Murah Meriah, mungkinkah ?
Drs. H. Tamtomo Utamapati, MP.d
Pengamat Pendidikan
Desentralisasi pendidikan menuntut kepala sekolah agar berperilaku kritis, kreatif, obyektif serta inovatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan ( terutama lembaga Swasta yang dananya dari masyarakat ).
Kritis dapat diartikan kritis terhadap kebutuhan siswa dalam upaya peningkatan mutu, kreatif dapat diartikan mempunyai daya cipta yang handal terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan, obyektif dapat diartikan dalam menangani segala permasalahan berorientasi pada kepentingan banyak orang, sedangkan inovasi adalah merupakan upaya kepala sekolah sebagai manajer untuk mengadakan pembaharuan dalam upaya peningkatan pembelajaran secara maksimal. Kepala sekolah sebagai manajer haruslah mengadakan prediksi terhadap lembaga yang dipimpinnya untuk dapat meningkatkan kualitas: siswa, guru dan sarana belajar dengan mengantisipasi perubahan, memahami dan mengatasi situasi, mengakomodasi dan mengorientasikan kembali upaya peningkatan mutu. Disamping itu haruslah berorientasi pada tantangan dunia kerja yang dinamis dan kompetitif.
Peningkatkan kualitas pendidikan adalah merupakan pekerjaan yang paling berat bagi kepala sekolah sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan, apalagi dengan dana yang murah meriah. Masyarakat sebagai penyandang dana selama ini jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Kesan yang tampak komite sekolah adalah kepanjangan tangan kepala sekolah dalam pengumpulan dana. Padahal dana yang masuk seharusnya dititik beratkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi siswa, bukan untuk peningkatan sarana belajar yang terkadang masih dimanfaatkan untuk kepentingan diluar program peningkatan mutu.
Beberapa komponen peningkatan mutu, diantaranya: Keterlibatan total dari semua personal pendidikan yang tidak mengenal akhir dengan proses berkesinambungan dan memerlukan kepemimpinan dari semua personal pendidikan.
Keyakinan pokok yang menghalangi upaya penciptaan mutu adalah banyaknya profesional pendidikan yang meyakini bahwa mutu pendidikan bergantung pada besarnya dana yang dialokasikan. Dengan dasar inilah masyarakat sebagai kostumer menjadi ” Sapi Perahan ” untuk mendanai keberlangsungan pendidikan. Anggapan bahwa lebih banyak uang yang diinvestasikan dalam pendidikan, maka lebih tinggi juga mutu pendidikannya. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah semua sekolah yang menaikkan dana pendidikan sudah mengadakan penelitian dengan kenaikan dana pendidikan, bisa menjamin peningkatan kualitas pendidikannya?.
Salah satu tolok ukur yang sangat sederhana dalam merumuskan pendidikan berkualitas adalah kepercayaan masyarakat terhadap mutu lulusannya, baik dalam hal pendidikan lanjut dan dunia kerja. Sebagai bahan acuan untuk mengetahui bahwa sekolah itu bermutu diantaranya adalah berfokus pada kostumer ( pertemuan dengan orang tua murid ), keterlibatan total ( melibatkan sekolah, orang tua dan pihak pengusaha sebagai penyandang dana ), pengukuran ( evaluasi dari semua komponen yang terlibat dalam proses ) dan tak kalah pentingnya adalah mengadakan perbaikan berkelanjutan tanpa henti- hentinya dengan bermodalkan kejujuran dan keterbukaan dengan orang tua murid serta masyarakat pengguna. Hal inilah yang harus diperjuangkan dan dipertahankan oleh kepala sekolah sebagai manajer dalam bidang pendidikan.
Salah satu contoh upaya menciptakan pendidikan murah meriah, guru harus terbuka dengan pembaharuan, misalnya dengan membuat rangkuman garis besar materi dari berbagai sumber untuk muridnya, guna mengurangi dana pembelian buku yang merupakan keluhan bagi para orang tua.
Sudah siapkah lembaga pendidikan dengan adanya pelaksanaan kurikulum 2013 menjadikan lembaga pendidikan yang betul – betul memenuhi kebutuhan masyarakat yang berorientasi pada pendidikan murah meriah?. Ini dapat diartikan tidak ada keluhan dari masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk memasukkan anaknya menjadi siswa di lembaga pendidikan tersebut. Tantangan terberat bagi lembaga pendidikan swasta yang sumbernya berasal dari orang tua siswa/ masyarakat adalah menciptakan pendidikan yang murah namun berkualitas, sehingga tidak ada lagi anak Indonesia usia sekolah yang tidak sekolah. Kewajiban dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang mewajibkan semua sekolah ( baik negeri maupun swasta ) untuk menerima maksimal 5 % dari golongan siswa yang tidak mampu adalah merupakan setitik program menuju pendidikan murah meriah yang sasarannya kedepan adalah menciptakan pendidikan murah meriah tapi berkualitas.
Drs. H. Tamtomo Utamapati, MP.d
Pengamat Pendidikan
Desentralisasi pendidikan menuntut kepala sekolah agar berperilaku kritis, kreatif, obyektif serta inovatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan ( terutama lembaga Swasta yang dananya dari masyarakat ).
Kritis dapat diartikan kritis terhadap kebutuhan siswa dalam upaya peningkatan mutu, kreatif dapat diartikan mempunyai daya cipta yang handal terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan, obyektif dapat diartikan dalam menangani segala permasalahan berorientasi pada kepentingan banyak orang, sedangkan inovasi adalah merupakan upaya kepala sekolah sebagai manajer untuk mengadakan pembaharuan dalam upaya peningkatan pembelajaran secara maksimal. Kepala sekolah sebagai manajer haruslah mengadakan prediksi terhadap lembaga yang dipimpinnya untuk dapat meningkatkan kualitas: siswa, guru dan sarana belajar dengan mengantisipasi perubahan, memahami dan mengatasi situasi, mengakomodasi dan mengorientasikan kembali upaya peningkatan mutu. Disamping itu haruslah berorientasi pada tantangan dunia kerja yang dinamis dan kompetitif.
Peningkatkan kualitas pendidikan adalah merupakan pekerjaan yang paling berat bagi kepala sekolah sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan, apalagi dengan dana yang murah meriah. Masyarakat sebagai penyandang dana selama ini jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Kesan yang tampak komite sekolah adalah kepanjangan tangan kepala sekolah dalam pengumpulan dana. Padahal dana yang masuk seharusnya dititik beratkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi siswa, bukan untuk peningkatan sarana belajar yang terkadang masih dimanfaatkan untuk kepentingan diluar program peningkatan mutu.
Beberapa komponen peningkatan mutu, diantaranya: Keterlibatan total dari semua personal pendidikan yang tidak mengenal akhir dengan proses berkesinambungan dan memerlukan kepemimpinan dari semua personal pendidikan.
Keyakinan pokok yang menghalangi upaya penciptaan mutu adalah banyaknya profesional pendidikan yang meyakini bahwa mutu pendidikan bergantung pada besarnya dana yang dialokasikan. Dengan dasar inilah masyarakat sebagai kostumer menjadi ” Sapi Perahan ” untuk mendanai keberlangsungan pendidikan. Anggapan bahwa lebih banyak uang yang diinvestasikan dalam pendidikan, maka lebih tinggi juga mutu pendidikannya. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah semua sekolah yang menaikkan dana pendidikan sudah mengadakan penelitian dengan kenaikan dana pendidikan, bisa menjamin peningkatan kualitas pendidikannya?.
Salah satu tolok ukur yang sangat sederhana dalam merumuskan pendidikan berkualitas adalah kepercayaan masyarakat terhadap mutu lulusannya, baik dalam hal pendidikan lanjut dan dunia kerja. Sebagai bahan acuan untuk mengetahui bahwa sekolah itu bermutu diantaranya adalah berfokus pada kostumer ( pertemuan dengan orang tua murid ), keterlibatan total ( melibatkan sekolah, orang tua dan pihak pengusaha sebagai penyandang dana ), pengukuran ( evaluasi dari semua komponen yang terlibat dalam proses ) dan tak kalah pentingnya adalah mengadakan perbaikan berkelanjutan tanpa henti- hentinya dengan bermodalkan kejujuran dan keterbukaan dengan orang tua murid serta masyarakat pengguna. Hal inilah yang harus diperjuangkan dan dipertahankan oleh kepala sekolah sebagai manajer dalam bidang pendidikan.
Salah satu contoh upaya menciptakan pendidikan murah meriah, guru harus terbuka dengan pembaharuan, misalnya dengan membuat rangkuman garis besar materi dari berbagai sumber untuk muridnya, guna mengurangi dana pembelian buku yang merupakan keluhan bagi para orang tua.
Sudah siapkah lembaga pendidikan dengan adanya pelaksanaan kurikulum 2013 menjadikan lembaga pendidikan yang betul – betul memenuhi kebutuhan masyarakat yang berorientasi pada pendidikan murah meriah?. Ini dapat diartikan tidak ada keluhan dari masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk memasukkan anaknya menjadi siswa di lembaga pendidikan tersebut. Tantangan terberat bagi lembaga pendidikan swasta yang sumbernya berasal dari orang tua siswa/ masyarakat adalah menciptakan pendidikan yang murah namun berkualitas, sehingga tidak ada lagi anak Indonesia usia sekolah yang tidak sekolah. Kewajiban dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang mewajibkan semua sekolah ( baik negeri maupun swasta ) untuk menerima maksimal 5 % dari golongan siswa yang tidak mampu adalah merupakan setitik program menuju pendidikan murah meriah yang sasarannya kedepan adalah menciptakan pendidikan murah meriah tapi berkualitas.
PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK BANGSA MENUJU GENERASI YANG BERKUALITAS.
Oleh: Tamtomo Utamapati, Surabaya )
I. Latar Belakang Masalah:
a. Persoalan Utama yang dihadapi bangsa kita diantaranya adalah turunnya nilai – nilai kejujuran, turunnya nilai – nilai kecerdasan karena semakin banyaknya penyimpangan dalam bidang moral, turunnya kepedulian terhadap nilai etika, sopan santun dalam kehidupan sehari - hari. Tidaklah mengherankan apabila kita setiap hari melihat tayangan media yang berupa tawuran, kenakalan remaja, korupsi, pelecehan seksual dan sebagainya.
b. Dari persoalan utama yang dihadapi bangsa Indonesia, apabila tidak kita selamatkan bersama maka bangsa kita ( termasuk anak didik ), akan menjadi bangsa yang tidak berkualitas atau boleh dikatakan menjadi bangsa yang tidak sukses. Sementara itu kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan semata – mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis ( Hard Skill ), tetapi juga ditentukan oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain ( Soft Skill ). Hasil dari penelitian mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 % Hard Skill dan sisanya 80 % oleh Soft Skill . Sehubungan dengan hal ini, maka Pembangunan Karakter Anak Bangsa adalah hal yang tidak bisa ditawar – tawar lagi, agar bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang berkualitas.
c. Penyebab persoalan turunnya nilai – nilai karakter anak bangsa adalah kurangnya keteladanan dari para pemimpin bangsa dalam kehidupan bernegara, kurangnya keteladan orang tua dan guru dalam kehidupan sehari –hari. Disamping itu anak akan membentuk karakternya melalui observasi setiap perilaku orang dewasa dan meniru perilaku tersebut menjadi perilakunya/ imitasi ( Fidelis Waruwu, 2011 ) .
d. Upaya untuk mengatasi kemerosotan pendidikan karakter anak bangsa haruslah diawali oleh keluarga terlebih dahulu, sesudah itu dilanjutkan oleh sekolah dan masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah pelibatan negara. Dengan demikian anak akan diberikan rasa aman, bernilai, dihargai, dipahami dan dicintai.
e. Kendala yang dihadapi: turunnya nilai – nilai karakter anak bangsa adalah derasnya arus informasi yang begitu pesat dari negara lain yang seolah – olah dunia kita tanpa batas ( globalisasi ), perbedaan persepsi tentang nilai karakter yang berbeda. Orang tua di rumah dan guru di sekolah hendaklah berfungsi sebagai pendamping untuk memberikan arahan kepada anak didik dan juga berfungsi sebagai filter untuk menyaring budaya yang negatif untuk dibuang dan menerima budaya yang positif untuk dikembangkan. Oleh sebab itu keluarga, sekolah dan masyarakat haruslah ada satu visi dan misi dalam mendidik siswa dalam kaitannya Pembangunan Karakter menuju generasi yang berkualitas.
KEMANDIRIAN KEPALA SEKOLAH SWASTA, SEBUAH HARGA MATI.
Drs. Tamtomo Utamapati, M.Pd
Pengamat Pendidikan
Pendidikan di Indonesia tidak akan lepas dari peran serta Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah adalah Manajer Sekolah yang tugasnya tidak hanya sebagai Manajer dalam bidang administratif saja, tetapi juga sebagai manajer bidang edukatif. Dengan demikian tugas kepala sekolah tidaklah ringan, terlebih lagi di era otonomi daerah yang memberikan peran yang besar sekali bagi Kepala Sekolah untuk mengembangkan Lembaganya sepesat mungkin. Apalagi dengan diberikannya BOSNAS dan BOPDA bagi sekolah yang bentuk pengelolaan dan pertanggung jawabannya memerlukan energi yang tidak sedikit.
Dalam kaitannya kepala sekolah sebagai “ Active agent “, bukan “ Free Agent “, maka keberadaan Kepala Sekolah mau tidak mau haruslah diberi porsi yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Apabila gerak kepala sekolah dibatasi oleh instansi diatasnya ( baca : yayasan ), maka bukan kemajuan yang didapatkannya, tetapi belengu – belenggu yang siap menghadang kebebasan kepala sekolah dalam upaya meningkatkan citra sekolah serta performance sekolah sebagai Centrum Pendidikan/ Pusat Pendidikan.
Drs. Tamtomo Utamapati, M.Pd
Pengamat Pendidikan
Pendidikan di Indonesia tidak akan lepas dari peran serta Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah adalah Manajer Sekolah yang tugasnya tidak hanya sebagai Manajer dalam bidang administratif saja, tetapi juga sebagai manajer bidang edukatif. Dengan demikian tugas kepala sekolah tidaklah ringan, terlebih lagi di era otonomi daerah yang memberikan peran yang besar sekali bagi Kepala Sekolah untuk mengembangkan Lembaganya sepesat mungkin. Apalagi dengan diberikannya BOSNAS dan BOPDA bagi sekolah yang bentuk pengelolaan dan pertanggung jawabannya memerlukan energi yang tidak sedikit.
Dalam kaitannya kepala sekolah sebagai “ Active agent “, bukan “ Free Agent “, maka keberadaan Kepala Sekolah mau tidak mau haruslah diberi porsi yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Apabila gerak kepala sekolah dibatasi oleh instansi diatasnya ( baca : yayasan ), maka bukan kemajuan yang didapatkannya, tetapi belengu – belenggu yang siap menghadang kebebasan kepala sekolah dalam upaya meningkatkan citra sekolah serta performance sekolah sebagai Centrum Pendidikan/ Pusat Pendidikan.
Langganan:
Komentar (Atom)